Pencarian Berita

Transfer Teknologi Perbenihan Lada Bermutu

  • Kategori: Berita
  • Diterbitkan pada Minggu, 01 Oktober 2017 16:42

Lada merupakan salah satu jenis rempah yang paling penting di antara rempah-rempah lainnya baik ditinjau dari segi perannya dalam menyumbangkan devisa negara maupun dari segi kegunaannya yang sangat khas dan tidak dapat digantikan dengan rempah lainnya, dan diberi julukan King of Spices.

Di Indonesia, sentra tanaman lada banyak terdapat di provinsi Bangka Belitung, Lampung, dan Kalimantan. Namun tak banyak yang mengetahui tanaman lada saat ini mulai berkembang di Jawa Tengah, tepatnya di kabupaten Purbalingga. Menurut Bapak Yogya

ketua Asosiasi Petani Lada Purbalingga (ASPALAGA) desa Kedarpan, kecamatan Kejobong, kabupaten Purbalingga, tanaman lada di Purbalingga mulai ditanam sejak tahun 1985 yang di bawa dari Lampung oleh seorang transmigran  yang sedang pulang kampung.

Saat ini tanaman lada di Purbalingga berkembang di tiga kecamatan yaitu Kejobong, Kaligondang dan Pengadegan, bahkan banyak terdapat juga di kabupaten Banjarnegara, dengan luas areal mencapai 456 ha dengan produksi 652 ton per tahun. Produktivitas lada di Purbalingga masih rendah dengan rata-rata 1 – 2 kg per pohon/tahun.

Pengamatan dari kunjungan lapang IPC (International Pepper Community) dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) di desa Kedarpan, kecamatan Kejobang, rendahnya produksi lada di Purbalingga disebabkan belum teradopsinya teknologi GAP tanaman lada, antara lain penggunaan benih yang benar.

Untuk pengembangan dan peningkatan produktivitas lada di Purbalingga,  Balitbangtan bekerjasama dengan IPC telah melakukan kegiatan secara langsung perbaikan mutu benih lada dengan membuat demplot produksi benih lada sesuai dengan  GAP.  Bahan tanaman lada diambil dari Kebun Induk Lada Kebun Percobaan (KP) Sukamulya, dan demplot dilaksanakan oleh kelompok tani lada  ASPALAGA dengan membuat persemaian sebanyak 5.000 polibeg.

Hasil persemaian di kelompok tani ASPALAGA, 85% lada yang dibibitkan dapat tumbuh dengan baik yang ditandai dengan pertumbuhan tunas, daun dan akar lekat.  Hal yang lebih menarik adalah persemaian yang terdapat di penangkar keberhasilannya lebih dari 95%.  Hasil persemaian ini telah ditanam musim tanam 2014 sekitar November atau Desember. 

Transfer teknologi pembibitan ini diharapkan para petani atau penangkar tidak lagi memproduksi benih yang berasal dari sulur cacing atau sulur gantung karena akan merugikan konsumen. Apalagi bila benih yang tidak sesuai dengan SNI benih lada diperjualbelikan atau menjadi bahan pengadaan pemerintah, untuk hal tersebut perlu kerjasama yang baik antara petani, penangkar, instansi yang terkait dengan pengawasan mutu benih.

Balai Perbenihan Tanaman Perkebunan (BPTP) 2017